Laman

Halaman

Minggu, 05 Desember 2010

Ada-Ada Saja 4 Betapa ‘Terima Kasih’ Sangatlah Berharga

Ada-Ada Saja 4 Betapa ‘Terima Kasih’ Sangatlah Berharga
Allah Swt berkata, barangsiapa pandai berterima kasih kepada makhluk ciptaanNya, maka ia termasuk orang yang sangat bersyukur kepada Allah ta’ala. Begitulah kurang lebih firmanNya yang saya tanamkan dalam benak saya hingga kemudian saya tetapkan menjadi prinsip hidup. Saya berusaha sebisa mungkin berterima kasih kepadaNya & kepada makhluk ciptaanNya. Oleh karenanya, terkadang apabila saya menyaksikan langsung seseorang yang telah meminta tolong atau bantuan dalam bentuk apapun lalu tidak atau lupa mengucapkan teima kasih, saya jadi memiliki kesimpulan kurang baik kepadanya. Seperti banyak kasus yang sering saya temui di mopen umum (lagi-lagi, pengalaman interaksi utama, di mopen umum), penumpang yang duduk agak jauh dari bel penghenti, kerap kali memerintah seseorang yang dekat dengan bel tersebut lalu lupa berterima kasih atas permintaannya yang telah dipenuhi. Apakah menurut pribadinya permintaan itu tidak perlu ditutup dengan ucapan terima kasih karena seseorang yang telah duduk dekat dengan bel telah dengan sendirinya memiliki kewajiban untuk memencet bel? Kewajiban yang tidak perlu diiringi rasa permohonan tolong?
Suatu ketika di lain cerita. Saya begitu antusias memberikan beberapa hadiah untuk keluarga ‘baru’ sebab pernikahan saya. Bagi saya, hadiah adalah hal yang indah. Bagaimana tidak, gratis tanpa bayar ataupun pakai embel-embel apapun! Kalau saya yang mendapat hadiah, pasti senangnya bukan main dan rasanya suatu saat saya harus turut membalasnya. Tetapi, apa yang saya rasakan lain. Ternyata, keluarga ‘baru’ itu justru menyambut hadiah pemberian saya dan suami dengan respon yang dingin luar biasa. Kami bukan dalam masa konflik atas suatu masalah. Bahkan hubungan silaturrahim kami dalam keadaan yang sehat wal’afiyat. Tetapi kenapa ya, toh realitanya respon yang kami dapatkan justru seolah kami seperti memberikan racun tanpa ada ucapan terima kasih sedikitpun! Oalah... Apakah karena adat istiadat yang telah mendarah daging untuk tidak mengucapkan terima kasih? Atau karena mereka tidak terbiasa mengucapkan terima kasih? Ataukah karena gengsi atas pemberian dari kami yang tidak bernilai tinggi? Mereka cukup berpendidikan untuk bisa berucap terima kasih meskipun –seandainya- adat tidak membiasakan mereka. Kami bukanlah ingin dibanggakan atau dipuja-puja, apalagi mendapatkan balasan atas apa yang telah kami berikan. Kami bukan pula ingin pamer solah kami sudah mampu memberikan hadiah. Saya cukup dengan niat ikhlas dan bahagia mampu memberikan ‘sesuatu’ kepada keluarga yang telah menghiasi kehidupan suami saya sebelum akhirnya berkehidupan bersama saya. Sedih merasa tidak dihargai. Terlebih suami, rautan wajanya menjadi sedikit muram sementara setelah penyerahan itu saya yang berwatak mudah protes, langsung beraksi. Jelas saya tidak terima, sikap aneh demikian. Saya tidak pernah dibiarkan tumbuh tanpa berterima kasih. Setidaknya, saya membutuhkan respon terima kasih meskipun tidak dengan kata-kata. Semoga kebiasaan tidak tahu terima kasih itu mampu kita enyahkan dari kehidupan ummat beragama. Semoga generasi selanjutnya adalah generasi yang penuh terima kasih kepada Tuhan, makhluk, terlebih alam sehingga mampu melestarikan kehidupan yang damai yang serasi, harmonis, dan seimbang. Ada-ada saja.

Ada-Ada Saja 3: Jampok

Ada-Ada Saja 3: Jampok
Saya suka sekali mengamati orang-orang yang ada di sekeliling saya, termasuk saat menjadi penumpang dalam angkutan umum yang dalam seminggu saya menjadi pelanggannya kurang lebih dua kali. Saat berinteraksi dengan orang yang umumnya saya tidak kenali, merupakan pengalaman yang unik sekaligus menjadi catatan cerita tersendiri dalam memori. Maka suatu ketika, seorang gadis hitam manis masuk ke dalam angkutan yang telah telebih dahulu saya tumpangi. Sambil mencuri-curi amat, saya mengamati gerak-geriknya. Kami duduk berhadapan satu sama lain sementara saya mencoba bersikap ramah. Saya simpulkan sedikit senyum. Ya, hanya sedikit, karena saya takut senyuman itu tak dibalas. Saya termasuk seorang yang menghargai senyuman meskipun sedikit dan pengalaman mengajarkan saya bahwa tersenyum lebar belum tentu dibalas dengan niat ikhlas yang sama! Malah saya pernah dicuekin! Hiks. Kali itu, benar seperti ketakutan saya, gadis itu hanya membalas senyuman saya dengan senyuman yang jauh lebih irit dan tatapan matanya yang bulat dengan bulu mata dibuat lentik dan lensa kontak hijau menyamarkan korneanya menatap saya dari ujung rambut sampai ujung kaki tak berkedip! Jelas saya jadi merasa aneh. Kamilah hanya penumpang yang ada di sana. Saya pun akhirnya jadi ikut mengamatinya dari ujung kepala sampai kaki. Sementara matanya mengarah ke luar jendela, saya semakin asik memperhatikan sikap dan penampilannya. Dengan kerudung ungu, kemeja ungu, rok beludru ungu, tas berbahan plastik hitam, sepatu ungu berpita, dan kalung JAMPOK besar tergantung di dadanya menjulur dari rantai hitam plastik. Hahahahahahaha. Kalau di daerah saya, jampok itu memiliki dua makna yang amat penting. Pertama, burung hantu yang cenderung bersifat percaya diri tinggi, kedua, narsis atau lebih tepatnya terlalu cinta diri sendiri dan percaya diri berlebihan. ‘Jampok’ adalah istilah yang biasa digunakan kalangan muda Aceh untuk pengertian yang cenderung negatif dan aneh. Oalah, jelas style saya kalah dari dia. Tingkat ke-matching¬-annya dalam berpakaian tiga tingkat lebih tinggi dari saya! Patutlah saya merasa aneh. Tapi, ternyata lucu juga seseorang yang berpakaian kelewat matching warna, terlebih menggantungkan kepercayaan dirinya di dalam kalung. Hehehe. Benar-benar suatu keunikan yang aneh.

Ada-Ada Saja 2: Investigasi-Investigasian

Ada-Ada Saja 2: Investigasi-Investigasian
Adalah suatu program investigasi khusus orang terkenal namanya. Mungkin program ini muncul karena program gosip untuk selebriti sedang cukup menjadi jamur di saluran-saluran televisi dan digemari orang-orang yang gemar bergosip. Investigasi itu sendiri yang saya tahu adalah mengusut, menyelidiki, ataupun memeriksa suatu hal atau kasus yang terjadi, tetapi dalam hal ini, investigasi dimaksud adalah justru penyelidikan terhadap fenomena-fenomena yang terjadi yang bukan lagi mengenai publik figur. Lho, kok jadi membahas alam bersama pakarnya? Atau malah, membahas fenomena tertentu bersama ustadz? Apakah itu bukan termasuk salah judul program, ya? Atau isinya yang salah program? Ada-Ada Saja

Ada-Ada Saja

Ada-Ada Saja 1: Presiden Lewat, Saya Korupsi! Gawat
Suatu ketika kemacetan menjadi begitu luar biasa di daerah saya, yang terhitung jarang sekali atau bahkan hampir tidak pernah menderita kemacetan seperti kala itu. Sepanjang jalan kota Banda Aceh padat total. Kendaraan berjubal mengantri mendapat jatah jalan. Saya yang hari itu mendapat tugas mengajar di sebuah bimbingan, sudah hampir 15 menit di dalam mopen umum mencoba menerka apa yang terjadi. Masih di jalan yang tidak jauh dari rumah, sebagai mukaddimah dari rentetan kemacetan selanjutnya, saya wondering di hati, kecelakaankah? Aahhh, memang saya orang tidak update, sebenarnya cukup gaul, namun saat itu saya baru saja terlepas dari pekerjaan yang menyita waktu, tenaga, dan pikiran, yakni mengerjakan orderan ketikan! Alhasil, saya tidak tahu, sebelum akhirnya menjadi tahu, bahwa ternyata presiden lewat! OMG! Di jalan utama yang akan mengantarkan saya menuju kota-lah saya menyadari akan kehadiran orang terpenting di Indonesia itu. Ada spanduk besar bertuliskan kurang lebih ‘Selamat Datang Bapak Presiden’. Saya menjadi antusias. Semoga pak pres melintasi mopen yang saya tumpangi, amin. Sebagai penggemar pak pres saya mencoba bersabar menunggu antrian kemacetan yang bising itu. Masih ada 35 menit waktu yang tersisa untuk bisa mencapai lokasi mengajar. Namun sayangnya, mopen itu nyaris tidak banyak berjalan, bahkan hampir diam 10-15 menit, saking ramainya! Oalah, jelas saya panik, wong saya tipikal guru On Time! (Narsis). Saya menggerutu dalam hati. Kenapa presiden lewat sampai harus menghalangi jalan –yang hanya akan dilewati presiden nanti- dan tidak jelas waktunya kapan. Sementara saya, warga negara Indonesia yang sadar dan taat hukum, terpaksa harus menjadi salah satu koruptor. Saya begitu membenci praktek-praktek Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme! Tapi kali itu, sayalah pelakunya. Semoga Allah Swt bukan memaknainya sebagai sebuah dosa. Amin.

Ayahku Buta

Firdaus di siang ini...
Menyengat, perih. Kulitku berlumur keringat. Lecet di telapak tanganku, menambah payah hari ini. Sepasang berharga ini tak cukup tahan merespon panasnya sinar sang surya. Lelahku meringis sejak tadi, namun ayahku tetap diam. Memang selalu begitu, hanya diam.
Aku biasa menjadi kuli angkut barang di pasar, persis di mana aku juga melakukan pekerjaan yang sama. Aku memiliki empat orang adik perempuan, harus memikirkan bagaimana kelangsungan biaya sekolah mereka karena orangtuaku tak sepenuhnya dapat diandalkan. Jabatan mereka cuma kuli. Apalah daya tubuh mamak dan ayahku, kerana beberapa organ penting yang tak berfungsi, maka dapat disimpulkan dengan jelas bahwa takkan ada pekerjaan yang ‘kan cukup memapankan kami, anak-anak mereka, karena keterbatasan-keterbatasan itu. Begitulah garis keturunan kami, amat sangat sederhana.
Ayahku nyaris tidak pernah tersenyum. Bahagianya adalah sekuntum kata terima kasih, dengan bahasa sederhana, kepada siapa saja. Adalah senyum yang tulus akan terlahir jika adik-adikku masuk ke dalam peringkat 10 terbaik di kelas.
Karena ia jarang tersenyum, ia tidak mau tertawa. Mamakku beralasan, tertawa itu takabbur, banyak tertawa saudara syaitan.
Aku dan ayah akan selalu bersama, seperti biasa, kami akan melangkah nyaris ke mana saja berdua. Kecuali, saat aku harus sekolah, karena pasti beliau akan sedang sibuk dengan kerupuk ubi yang adonannya sudah dibuat dan dikeringkan mamak. Maka dipastikan juga saat itu ayah akan sedang duduk di atas jengkok kayu lapuk yang dibuatnya. Duduk ia dihadapan minyak goreng panas dengan suhu api yang cukup menghirup segenap oksigen di sekelilingnya. Setelah itu, dengan sebatang kayu pohon beringin yang cukup kokoh sepanjang satu meter berdiameter lima senti akan menemaninya menuju sekolahku. Sambil meraba-raba badan jalan yang telah diingat seumur hidupnya. Kadang beberapa orang berakhlak dan hati mulia akan dengan sangat terharu membantunya menuju sekolahku. Maka saat-saat itu akan menjadi beberapa patah kalimat sederhana sebagai ceritanya kepadaku, bahwa laki-laki atau perempuan-perempuan itu sungguh malaikat. Seperti itulah akhlak yang diinginkannya ada pada anak-anaknya kelak jika kami kaya nanti. Yah, enam atau tujuh kalimat saja, sisanya, tak perlu ditanya, karena aku sendiri bukan penanya yang baik. Aku tak mau usik pikirnya. Aku bukanlah peminta, apalagi perengek. Cukup yang aku perlu adalah pikirkan masa depan kami.
Akulah yang selalu bangga kepada diriku karena aku merasa menjadi The Thinker, si patung pemikir yang menakjubkan.
Ayah sangat membutuhkan aku, ke mana pun, di mana pun. Seperti saat ini. Lagi.
Aku lelah, gerutuku di hati. “Ayah, tahukah engkau aku ingin sekejap waktu untukku sendiri? Aku ada di puncak titik jenuh, ayah! Aku mau aku! Ah ayah, kenapalah aku perlu merasa bersalah meninggalkna engkau bepergian sendiri? Kalau bukan karena sekelompok orang biadab yang merampokmu itu!” Aku mengamuk si tenggorokanku. Tanpa suara pun terdengar. Hanya desahan nafasku. Entah apa yang ada dalam pikirku saat ini. Saat kucoba hentikan labi-labi yang akan membawa kami ke pasar ikan. Cukup jauh kami berjalan untuk mencapai ini dari kediaman. Nyaris 1 kilometer. Bukan karena ketiadaan angkutan umum yang melewati jalan rumah kami dan sekolahku, tapi kerana empat lembar uang seribu rupiah itu berharga untuk adik-adikku.
Manakala hari tepat berada di tengah puncaknya, seusai sekolah, adalah saat paling tepat untukku nyaman berdo’a, di situlah saatku mengadu pada Allah Swt, Tuhan yang amat kuyakini keberadaannya. Kubermohon semoga Dia mau mempermudah setiap langkah kami, supaya mamakku tak perlu lagi mencuci baju orang, supaya kaki mamakku segera sehat, supaya ketiga adikku bisa terus mengecap bangku sekolah setinggi-tingginya, supaya sepasang mata ayah bisa melihat, supaya ia tahu bahwa deru ombak yang bersyair cinta menurut keyakinannya itu - hal yang sangat ingin dilihatnya - memang adalah hal luar biasa di bumi, dan agar supaya-supaya yang lain yang selalu aku upayakan tiap siang didengar dan diijabahNya. Malam-malamku adalah saat derajatku menjadi lebih tinggi, guru bagi adik-adik yang butuh bimbinganku untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Ah, alangkah bahagianya jadi guru, pekerjaan sederhana, mengoper ilmu tanpa pelit sampai murid pandai. Semoga suatu waktu nanti aku mampu mengangkat derajat keluargaku dengan pekerjaan mulia itu. Toh, aku muak melihat pemimpin-pemimpin omong kosong. Yang dilakukannya hanyalah koleksi dosa. Na’udzubillah.
***
Dinar di siang ini...
Lompatku segera ke atas labi-labi berpintu kecil yang tanpa sengaja kuantukkan kepalaku. “Sial!” desisku. Music player dari handphone paling murah yang pernah kumiliki ini sedikit mengiburku. “I’m tired of being what you want me to be, feeling so faithless. Lost under the surface” bait demi bait kalimat-kalimat itu keluar dari faring Chester Bennington, vokalis band yang amat kugemari. “ ... every step that I take is anther mistake to you!” begitulah aku, bagi papa, adalah kesalahan dalam hidupnya. “I’ve become so numb...” Sungguh muak! Aku benci papa!
Dua orang laki-laki memberhentikan labi-labi yang aku tumpangi. Dari jauh, nampak jelas kalau mereka papa dan anak. Ups, papanya coba meraba. Ia tidak melihat. Kuraih lengannya kubimbing duduk di hadapku. Raut wajah mereka berdua lelah. Putera yang mendampinginya miris sinis melihatku. “Lho, bukan maksud menghina dek, Cuma pengen bantu!” ucapku dalam hati. Nah, dia sendiri yang gak mau bantu papanya!
Ah, papa, lagi-lagi papa! Aku juga punya papa. Dia juga buta. Mata hatinya tak mampu melihat meski bisa. Mungkin karena sistem kerja otaknya telah serusak hatinya oleh karena itu dia jadi tak mampu?
Akan kuingat puncak amarahnya pagi tadi yang telah membawaku menumpangi labi-labi berbau aneh ini. Seluruh benda milikku disitanya! Seluruhnya! Padahal semua itu adalah hasil kerjaku sendiri, modal dari mama! Oh mama, putera manjamu ini rindu mama. Bagaimana kabar mama di sana? Mama, maaf, aku lupa cara mendo’akanmu. Terlalu dini aku mempelajainya hingga aku lupa.
Berita di koran pagi tadi “Skandal Video Mesum Presiden direktur Bank Sabenaraseuki Kembali Terungkap”. Bodoh. Papa memang tidak pandai. Hal sepele semacam itu mampu menjerembabkannya. Dasar perempuan biadab! Mau dapat harta dengan cara yang benar-benar menjijikkan. Ah, itu pasti karma bagi papa. Sebagaimana dulu ia menghamili kekasihnya, mama, di luar nikah demi harta warisan dan nama terhormat yang telah dimiliki kakek. Tragis memang nasib mama. Sesosok perempuan cantik nan anggun yang terkena pola didik liberal sebagaimana yang dianut dan dipolakan kakekkepada anak-anaknya. Mama bukan lugu, hanya sedikit rusak pikirannya karena pola hidupnya di kota. Adalah seorang laki-laki kampung yang diyakininya sepolos-polos laki-laki yang ia kenal, papa, yang dengan alasan tanpa sengaja menghamilinya sehingga terpaksa harus mempertanggungjawabkannya. Ah, Tuhan ampunilah dosa mamaku tercinta.
Berita itu lagi-lagi diangkat wartawan. Cukup sudah malu. Apa kata teman-temanku nanti? Belum lagi dosen-dosenku yang lagaknya macam ustadz yang ‘kan menyindirku di muka kelas. Tepat di wajahku. Padahal telah kuberusaha keras menjadi pelajar yang mampuunggul dan jadi luar biasa dengan bakat alamiku sendiri. Bukan karena papa! Ah, percuma. Toh semua orang buta! Buta seperti papa! Yang dia tahu hanya jelekku, padahal segenap syaraf di otakku memikirkan tiap-tiap pelajaran dan usaha bisnis yang sedang kujalani. Yang papa tahu hanya aku yang tak sengaja kepergok salah seorang premannya di sebuah bar, di salah satu kota terbesar di negeri ini. Papa tak akan mau tahu betapa ku juga mau seperti dia, mengistierahatkan sebentar beban otak dan sel-sel darah yang selalu panas dibakar klien, wartawan, dan masyarakat di dunia gemerlap.
“Pergi! Kalau kamu ingin tunggu kata usiran itu secara jelas dari mulut paapa, maka pergilah! Kamu memang tak ada guna! Tidak akan penah! Yang kamu mau cuma hidupmu sendiri, tanpa pikir nasib papa. Ingat, ini kali terakhir terucap dari dalam mulut papa. Kamu tidak akan dapat apapun dari papa. Bahkan tidak handphone di genggamanmu itu! Anak manja tak tahu diri!”
Maka hanya dengan pakaian di badan, setumpuk uang, yang tiap lembarnya senilai seratus ribu, yang sempat kutarik karena pegawaiku mengatakan akan membutuhkannya siang ini untuk biaya perawatan ibunya, dan hp di genggamanku, aku nekad pergi.
***
Aku asyik menatapi laki-laki muda di hadapan ayah. Telepon genggamnya bagus. Ia nampak asyik medengarkan musik yang keluar langsung ke telinganya melalui earphone yang dipakainya. Ah, alangkah senangya. Pasti lebih rileks. Ayah juga bisa dengar lagu-lagu Rhoma Irama dan Nike Ardhilla dari sana. “Aku simpan gaji lima bulan ini dan ke depan nanti untuk beli itu ya, ayah?” Ah ayah. Pertanyaanku hanya terucap di hati.
***
“So much for my happy ending!” Avril berteriak di telingaku.
Sumpahilah aku papa! Bahagia ku mendengarnya.
‘Kan kututup kisah hari ini dengan senyum Anita dan bundanya di Rumah Sakit Umum Daerah nanti. Dan aku juga akan berjanji kepada almarhumah mama untuk segera mengembalikan Tuhan dalam memoriku.
***
Darussalam, menuju sepertiga malam yang menuju hari ke tujuh bulan Februari tahun 2010.
Inspirasi menulis berbait-bait kalimat ini adalah;
• Seorang anak usia sekolah menengah atas dan yahandanya yang tidak mampu melihat dengan pakaian dan wajah lusuh mereka. Saat-saat itu kuteliti dan menghayalkan sosok mereka di labi-labi yang kutumpangi menuju tempat mengajarku, sebuah bimbingan belajar yang cukup terkemuka se-Indonesia bagi anak sekolah.
• Sedemikian banyak kasus pemimpin zaman sekarang beserta pola kehidupan anak eturunan mereka yang teramat glamor dan angkuh.

Ayahku Buta

Firdaus di siang ini...
Menyengat, perih. Kulitku berlumur keringat. Lecet di telapak tanganku, menambah payah hari ini. Sepasang berharga ini tak cukup tahan merespon panasnya sinar sang surya. Lelahku meringis sejak tadi, namun ayahku tetap diam. Memang selalu begitu, hanya diam.
Aku biasa menjadi kuli angkut barang di pasar, persis di mana aku juga melakukan pekerjaan yang sama. Aku memiliki empat orang adik perempuan, harus memikirkan bagaimana kelangsungan biaya sekolah mereka karena orangtuaku tak sepenuhnya dapat diandalkan. Jabatan mereka cuma kuli. Apalah daya tubuh mamak dan ayahku, kerana beberapa organ penting yang tak berfungsi, maka dapat disimpulkan dengan jelas bahwa takkan ada pekerjaan yang ‘kan cukup memapankan kami, anak-anak mereka, karena keterbatasan-keterbatasan itu. Begitulah garis keturunan kami, amat sangat sederhana.
Ayahku nyaris tidak pernah tersenyum. Bahagianya adalah sekuntum kata terima kasih, dengan bahasa sederhana, kepada siapa saja. Adalah senyum yang tulus akan terlahir jika adik-adikku masuk ke dalam peringkat 10 terbaik di kelas.
Karena ia jarang tersenyum, ia tidak mau tertawa. Mamakku beralasan, tertawa itu takabbur, banyak tertawa saudara syaitan.
Aku dan ayah akan selalu bersama, seperti biasa, kami akan melangkah nyaris ke mana saja berdua. Kecuali, saat aku harus sekolah, karena pasti beliau akan sedang sibuk dengan kerupuk ubi yang adonannya sudah dibuat dan dikeringkan mamak. Maka dipastikan juga saat itu ayah akan sedang duduk di atas jengkok kayu lapuk yang dibuatnya. Duduk ia dihadapan minyak goreng panas dengan suhu api yang cukup menghirup segenap oksigen di sekelilingnya. Setelah itu, dengan sebatang kayu pohon beringin yang cukup kokoh sepanjang satu meter berdiameter lima senti akan menemaninya menuju sekolahku. Sambil meraba-raba badan jalan yang telah diingat seumur hidupnya. Kadang beberapa orang berakhlak dan hati mulia akan dengan sangat terharu membantunya menuju sekolahku. Maka saat-saat itu akan menjadi beberapa patah kalimat sederhana sebagai ceritanya kepadaku, bahwa laki-laki atau perempuan-perempuan itu sungguh malaikat. Seperti itulah akhlak yang diinginkannya ada pada anak-anaknya kelak jika kami kaya nanti. Yah, enam atau tujuh kalimat saja, sisanya, tak perlu ditanya, karena aku sendiri bukan penanya yang baik. Aku tak mau usik pikirnya. Aku bukanlah peminta, apalagi perengek. Cukup yang aku perlu adalah pikirkan masa depan kami.
Akulah yang selalu bangga kepada diriku karena aku merasa menjadi The Thinker, si patung pemikir yang menakjubkan.
Ayah sangat membutuhkan aku, ke mana pun, di mana pun. Seperti saat ini. Lagi.
Aku lelah, gerutuku di hati. “Ayah, tahukah engkau aku ingin sekejap waktu untukku sendiri? Aku ada di puncak titik jenuh, ayah! Aku mau aku! Ah ayah, kenapalah aku perlu merasa bersalah meninggalkna engkau bepergian sendiri? Kalau bukan karena sekelompok orang biadab yang merampokmu itu!” Aku mengamuk si tenggorokanku. Tanpa suara pun terdengar. Hanya desahan nafasku. Entah apa yang ada dalam pikirku saat ini. Saat kucoba hentikan labi-labi yang akan membawa kami ke pasar ikan. Cukup jauh kami berjalan untuk mencapai ini dari kediaman. Nyaris 1 kilometer. Bukan karena ketiadaan angkutan umum yang melewati jalan rumah kami dan sekolahku, tapi kerana empat lembar uang seribu rupiah itu berharga untuk adik-adikku.
Manakala hari tepat berada di tengah puncaknya, seusai sekolah, adalah saat paling tepat untukku nyaman berdo’a, di situlah saatku mengadu pada Allah Swt, Tuhan yang amat kuyakini keberadaannya. Kubermohon semoga Dia mau mempermudah setiap langkah kami, supaya mamakku tak perlu lagi mencuci baju orang, supaya kaki mamakku segera sehat, supaya ketiga adikku bisa terus mengecap bangku sekolah setinggi-tingginya, supaya sepasang mata ayah bisa melihat, supaya ia tahu bahwa deru ombak yang bersyair cinta menurut keyakinannya itu - hal yang sangat ingin dilihatnya - memang adalah hal luar biasa di bumi, dan agar supaya-supaya yang lain yang selalu aku upayakan tiap siang didengar dan diijabahNya. Malam-malamku adalah saat derajatku menjadi lebih tinggi, guru bagi adik-adik yang butuh bimbinganku untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Ah, alangkah bahagianya jadi guru, pekerjaan sederhana, mengoper ilmu tanpa pelit sampai murid pandai. Semoga suatu waktu nanti aku mampu mengangkat derajat keluargaku dengan pekerjaan mulia itu. Toh, aku muak melihat pemimpin-pemimpin omong kosong. Yang dilakukannya hanyalah koleksi dosa. Na’udzubillah.
***
Dinar di siang ini...
Lompatku segera ke atas labi-labi berpintu kecil yang tanpa sengaja kuantukkan kepalaku. “Sial!” desisku. Music player dari handphone paling murah yang pernah kumiliki ini sedikit mengiburku. “I’m tired of being what you want me to be, feeling so faithless. Lost under the surface” bait demi bait kalimat-kalimat itu keluar dari faring Chester Bennington, vokalis band yang amat kugemari. “ ... every step that I take is anther mistake to you!” begitulah aku, bagi papa, adalah kesalahan dalam hidupnya. “I’ve become so numb...” Sungguh muak! Aku benci papa!
Dua orang laki-laki memberhentikan labi-labi yang aku tumpangi. Dari jauh, nampak jelas kalau mereka papa dan anak. Ups, papanya coba meraba. Ia tidak melihat. Kuraih lengannya kubimbing duduk di hadapku. Raut wajah mereka berdua lelah. Putera yang mendampinginya miris sinis melihatku. “Lho, bukan maksud menghina dek, Cuma pengen bantu!” ucapku dalam hati. Nah, dia sendiri yang gak mau bantu papanya!
Ah, papa, lagi-lagi papa! Aku juga punya papa. Dia juga buta. Mata hatinya tak mampu melihat meski bisa. Mungkin karena sistem kerja otaknya telah serusak hatinya oleh karena itu dia jadi tak mampu?
Akan kuingat puncak amarahnya pagi tadi yang telah membawaku menumpangi labi-labi berbau aneh ini. Seluruh benda milikku disitanya! Seluruhnya! Padahal semua itu adalah hasil kerjaku sendiri, modal dari mama! Oh mama, putera manjamu ini rindu mama. Bagaimana kabar mama di sana? Mama, maaf, aku lupa cara mendo’akanmu. Terlalu dini aku mempelajainya hingga aku lupa.
Berita di koran pagi tadi “Skandal Video Mesum Presiden direktur Bank Sabenaraseuki Kembali Terungkap”. Bodoh. Papa memang tidak pandai. Hal sepele semacam itu mampu menjerembabkannya. Dasar perempuan biadab! Mau dapat harta dengan cara yang benar-benar menjijikkan. Ah, itu pasti karma bagi papa. Sebagaimana dulu ia menghamili kekasihnya, mama, di luar nikah demi harta warisan dan nama terhormat yang telah dimiliki kakek. Tragis memang nasib mama. Sesosok perempuan cantik nan anggun yang terkena pola didik liberal sebagaimana yang dianut dan dipolakan kakekkepada anak-anaknya. Mama bukan lugu, hanya sedikit rusak pikirannya karena pola hidupnya di kota. Adalah seorang laki-laki kampung yang diyakininya sepolos-polos laki-laki yang ia kenal, papa, yang dengan alasan tanpa sengaja menghamilinya sehingga terpaksa harus mempertanggungjawabkannya. Ah, Tuhan ampunilah dosa mamaku tercinta.
Berita itu lagi-lagi diangkat wartawan. Cukup sudah malu. Apa kata teman-temanku nanti? Belum lagi dosen-dosenku yang lagaknya macam ustadz yang ‘kan menyindirku di muka kelas. Tepat di wajahku. Padahal telah kuberusaha keras menjadi pelajar yang mampuunggul dan jadi luar biasa dengan bakat alamiku sendiri. Bukan karena papa! Ah, percuma. Toh semua orang buta! Buta seperti papa! Yang dia tahu hanya jelekku, padahal segenap syaraf di otakku memikirkan tiap-tiap pelajaran dan usaha bisnis yang sedang kujalani. Yang papa tahu hanya aku yang tak sengaja kepergok salah seorang premannya di sebuah bar, di salah satu kota terbesar di negeri ini. Papa tak akan mau tahu betapa ku juga mau seperti dia, mengistierahatkan sebentar beban otak dan sel-sel darah yang selalu panas dibakar klien, wartawan, dan masyarakat di dunia gemerlap.
“Pergi! Kalau kamu ingin tunggu kata usiran itu secara jelas dari mulut paapa, maka pergilah! Kamu memang tak ada guna! Tidak akan penah! Yang kamu mau cuma hidupmu sendiri, tanpa pikir nasib papa. Ingat, ini kali terakhir terucap dari dalam mulut papa. Kamu tidak akan dapat apapun dari papa. Bahkan tidak handphone di genggamanmu itu! Anak manja tak tahu diri!”
Maka hanya dengan pakaian di badan, setumpuk uang, yang tiap lembarnya senilai seratus ribu, yang sempat kutarik karena pegawaiku mengatakan akan membutuhkannya siang ini untuk biaya perawatan ibunya, dan hp di genggamanku, aku nekad pergi.
***
Aku asyik menatapi laki-laki muda di hadapan ayah. Telepon genggamnya bagus. Ia nampak asyik medengarkan musik yang keluar langsung ke telinganya melalui earphone yang dipakainya. Ah, alangkah senangya. Pasti lebih rileks. Ayah juga bisa dengar lagu-lagu Rhoma Irama dan Nike Ardhilla dari sana. “Aku simpan gaji lima bulan ini dan ke depan nanti untuk beli itu ya, ayah?” Ah ayah. Pertanyaanku hanya terucap di hati.
***
“So much for my happy ending!” Avril berteriak di telingaku.
Sumpahilah aku papa! Bahagia ku mendengarnya.
‘Kan kututup kisah hari ini dengan senyum Anita dan bundanya di Rumah Sakit Umum Daerah nanti. Dan aku juga akan berjanji kepada almarhumah mama untuk segera mengembalikan Tuhan dalam memoriku.
***
Darussalam, menuju sepertiga malam yang menuju hari ke tujuh bulan Februari tahun 2010.
Inspirasi menulis berbait-bait kalimat ini adalah;
• Seorang anak usia sekolah menengah atas dan yahandanya yang tidak mampu melihat dengan pakaian dan wajah lusuh mereka. Saat-saat itu kuteliti dan menghayalkan sosok mereka di labi-labi yang kutumpangi menuju tempat mengajarku, sebuah bimbingan belajar yang cukup terkemuka se-Indonesia bagi anak sekolah.
• Sedemikian banyak kasus pemimpin zaman sekarang beserta pola kehidupan anak eturunan mereka yang teramat glamor dan angkuh.

Ayahku Buta

Firdaus di siang ini...
Menyengat, perih. Kulitku berlumur keringat. Lecet di telapak tanganku, menambah payah hari ini. Sepasang berharga ini tak cukup tahan merespon panasnya sinar sang surya. Lelahku meringis sejak tadi, namun ayahku tetap diam. Memang selalu begitu, hanya diam.
Aku biasa menjadi kuli angkut barang di pasar, persis di mana aku juga melakukan pekerjaan yang sama. Aku memiliki empat orang adik perempuan, harus memikirkan bagaimana kelangsungan biaya sekolah mereka karena orangtuaku tak sepenuhnya dapat diandalkan. Jabatan mereka cuma kuli. Apalah daya tubuh mamak dan ayahku, kerana beberapa organ penting yang tak berfungsi, maka dapat disimpulkan dengan jelas bahwa takkan ada pekerjaan yang ‘kan cukup memapankan kami, anak-anak mereka, karena keterbatasan-keterbatasan itu. Begitulah garis keturunan kami, amat sangat sederhana.
Ayahku nyaris tidak pernah tersenyum. Bahagianya adalah sekuntum kata terima kasih, dengan bahasa sederhana, kepada siapa saja. Adalah senyum yang tulus akan terlahir jika adik-adikku masuk ke dalam peringkat 10 terbaik di kelas.
Karena ia jarang tersenyum, ia tidak mau tertawa. Mamakku beralasan, tertawa itu takabbur, banyak tertawa saudara syaitan.
Aku dan ayah akan selalu bersama, seperti biasa, kami akan melangkah nyaris ke mana saja berdua. Kecuali, saat aku harus sekolah, karena pasti beliau akan sedang sibuk dengan kerupuk ubi yang adonannya sudah dibuat dan dikeringkan mamak. Maka dipastikan juga saat itu ayah akan sedang duduk di atas jengkok kayu lapuk yang dibuatnya. Duduk ia dihadapan minyak goreng panas dengan suhu api yang cukup menghirup segenap oksigen di sekelilingnya. Setelah itu, dengan sebatang kayu pohon beringin yang cukup kokoh sepanjang satu meter berdiameter lima senti akan menemaninya menuju sekolahku. Sambil meraba-raba badan jalan yang telah diingat seumur hidupnya. Kadang beberapa orang berakhlak dan hati mulia akan dengan sangat terharu membantunya menuju sekolahku. Maka saat-saat itu akan menjadi beberapa patah kalimat sederhana sebagai ceritanya kepadaku, bahwa laki-laki atau perempuan-perempuan itu sungguh malaikat. Seperti itulah akhlak yang diinginkannya ada pada anak-anaknya kelak jika kami kaya nanti. Yah, enam atau tujuh kalimat saja, sisanya, tak perlu ditanya, karena aku sendiri bukan penanya yang baik. Aku tak mau usik pikirnya. Aku bukanlah peminta, apalagi perengek. Cukup yang aku perlu adalah pikirkan masa depan kami.
Akulah yang selalu bangga kepada diriku karena aku merasa menjadi The Thinker, si patung pemikir yang menakjubkan.
Ayah sangat membutuhkan aku, ke mana pun, di mana pun. Seperti saat ini. Lagi.
Aku lelah, gerutuku di hati. “Ayah, tahukah engkau aku ingin sekejap waktu untukku sendiri? Aku ada di puncak titik jenuh, ayah! Aku mau aku! Ah ayah, kenapalah aku perlu merasa bersalah meninggalkna engkau bepergian sendiri? Kalau bukan karena sekelompok orang biadab yang merampokmu itu!” Aku mengamuk si tenggorokanku. Tanpa suara pun terdengar. Hanya desahan nafasku. Entah apa yang ada dalam pikirku saat ini. Saat kucoba hentikan labi-labi yang akan membawa kami ke pasar ikan. Cukup jauh kami berjalan untuk mencapai ini dari kediaman. Nyaris 1 kilometer. Bukan karena ketiadaan angkutan umum yang melewati jalan rumah kami dan sekolahku, tapi kerana empat lembar uang seribu rupiah itu berharga untuk adik-adikku.
Manakala hari tepat berada di tengah puncaknya, seusai sekolah, adalah saat paling tepat untukku nyaman berdo’a, di situlah saatku mengadu pada Allah Swt, Tuhan yang amat kuyakini keberadaannya. Kubermohon semoga Dia mau mempermudah setiap langkah kami, supaya mamakku tak perlu lagi mencuci baju orang, supaya kaki mamakku segera sehat, supaya ketiga adikku bisa terus mengecap bangku sekolah setinggi-tingginya, supaya sepasang mata ayah bisa melihat, supaya ia tahu bahwa deru ombak yang bersyair cinta menurut keyakinannya itu - hal yang sangat ingin dilihatnya - memang adalah hal luar biasa di bumi, dan agar supaya-supaya yang lain yang selalu aku upayakan tiap siang didengar dan diijabahNya. Malam-malamku adalah saat derajatku menjadi lebih tinggi, guru bagi adik-adik yang butuh bimbinganku untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Ah, alangkah bahagianya jadi guru, pekerjaan sederhana, mengoper ilmu tanpa pelit sampai murid pandai. Semoga suatu waktu nanti aku mampu mengangkat derajat keluargaku dengan pekerjaan mulia itu. Toh, aku muak melihat pemimpin-pemimpin omong kosong. Yang dilakukannya hanyalah koleksi dosa. Na’udzubillah.
***
Dinar di siang ini...
Lompatku segera ke atas labi-labi berpintu kecil yang tanpa sengaja kuantukkan kepalaku. “Sial!” desisku. Music player dari handphone paling murah yang pernah kumiliki ini sedikit mengiburku. “I’m tired of being what you want me to be, feeling so faithless. Lost under the surface” bait demi bait kalimat-kalimat itu keluar dari faring Chester Bennington, vokalis band yang amat kugemari. “ ... every step that I take is anther mistake to you!” begitulah aku, bagi papa, adalah kesalahan dalam hidupnya. “I’ve become so numb...” Sungguh muak! Aku benci papa!
Dua orang laki-laki memberhentikan labi-labi yang aku tumpangi. Dari jauh, nampak jelas kalau mereka papa dan anak. Ups, papanya coba meraba. Ia tidak melihat. Kuraih lengannya kubimbing duduk di hadapku. Raut wajah mereka berdua lelah. Putera yang mendampinginya miris sinis melihatku. “Lho, bukan maksud menghina dek, Cuma pengen bantu!” ucapku dalam hati. Nah, dia sendiri yang gak mau bantu papanya!
Ah, papa, lagi-lagi papa! Aku juga punya papa. Dia juga buta. Mata hatinya tak mampu melihat meski bisa. Mungkin karena sistem kerja otaknya telah serusak hatinya oleh karena itu dia jadi tak mampu?
Akan kuingat puncak amarahnya pagi tadi yang telah membawaku menumpangi labi-labi berbau aneh ini. Seluruh benda milikku disitanya! Seluruhnya! Padahal semua itu adalah hasil kerjaku sendiri, modal dari mama! Oh mama, putera manjamu ini rindu mama. Bagaimana kabar mama di sana? Mama, maaf, aku lupa cara mendo’akanmu. Terlalu dini aku mempelajainya hingga aku lupa.
Berita di koran pagi tadi “Skandal Video Mesum Presiden direktur Bank Sabenaraseuki Kembali Terungkap”. Bodoh. Papa memang tidak pandai. Hal sepele semacam itu mampu menjerembabkannya. Dasar perempuan biadab! Mau dapat harta dengan cara yang benar-benar menjijikkan. Ah, itu pasti karma bagi papa. Sebagaimana dulu ia menghamili kekasihnya, mama, di luar nikah demi harta warisan dan nama terhormat yang telah dimiliki kakek. Tragis memang nasib mama. Sesosok perempuan cantik nan anggun yang terkena pola didik liberal sebagaimana yang dianut dan dipolakan kakekkepada anak-anaknya. Mama bukan lugu, hanya sedikit rusak pikirannya karena pola hidupnya di kota. Adalah seorang laki-laki kampung yang diyakininya sepolos-polos laki-laki yang ia kenal, papa, yang dengan alasan tanpa sengaja menghamilinya sehingga terpaksa harus mempertanggungjawabkannya. Ah, Tuhan ampunilah dosa mamaku tercinta.
Berita itu lagi-lagi diangkat wartawan. Cukup sudah malu. Apa kata teman-temanku nanti? Belum lagi dosen-dosenku yang lagaknya macam ustadz yang ‘kan menyindirku di muka kelas. Tepat di wajahku. Padahal telah kuberusaha keras menjadi pelajar yang mampuunggul dan jadi luar biasa dengan bakat alamiku sendiri. Bukan karena papa! Ah, percuma. Toh semua orang buta! Buta seperti papa! Yang dia tahu hanya jelekku, padahal segenap syaraf di otakku memikirkan tiap-tiap pelajaran dan usaha bisnis yang sedang kujalani. Yang papa tahu hanya aku yang tak sengaja kepergok salah seorang premannya di sebuah bar, di salah satu kota terbesar di negeri ini. Papa tak akan mau tahu betapa ku juga mau seperti dia, mengistierahatkan sebentar beban otak dan sel-sel darah yang selalu panas dibakar klien, wartawan, dan masyarakat di dunia gemerlap.
“Pergi! Kalau kamu ingin tunggu kata usiran itu secara jelas dari mulut paapa, maka pergilah! Kamu memang tak ada guna! Tidak akan penah! Yang kamu mau cuma hidupmu sendiri, tanpa pikir nasib papa. Ingat, ini kali terakhir terucap dari dalam mulut papa. Kamu tidak akan dapat apapun dari papa. Bahkan tidak handphone di genggamanmu itu! Anak manja tak tahu diri!”
Maka hanya dengan pakaian di badan, setumpuk uang, yang tiap lembarnya senilai seratus ribu, yang sempat kutarik karena pegawaiku mengatakan akan membutuhkannya siang ini untuk biaya perawatan ibunya, dan hp di genggamanku, aku nekad pergi.
***
Aku asyik menatapi laki-laki muda di hadapan ayah. Telepon genggamnya bagus. Ia nampak asyik medengarkan musik yang keluar langsung ke telinganya melalui earphone yang dipakainya. Ah, alangkah senangya. Pasti lebih rileks. Ayah juga bisa dengar lagu-lagu Rhoma Irama dan Nike Ardhilla dari sana. “Aku simpan gaji lima bulan ini dan ke depan nanti untuk beli itu ya, ayah?” Ah ayah. Pertanyaanku hanya terucap di hati.
***
“So much for my happy ending!” Avril berteriak di telingaku.
Sumpahilah aku papa! Bahagia ku mendengarnya.
‘Kan kututup kisah hari ini dengan senyum Anita dan bundanya di Rumah Sakit Umum Daerah nanti. Dan aku juga akan berjanji kepada almarhumah mama untuk segera mengembalikan Tuhan dalam memoriku.
***
Darussalam, menuju sepertiga malam yang menuju hari ke tujuh bulan Februari tahun 2010.
Inspirasi menulis berbait-bait kalimat ini adalah;
• Seorang anak usia sekolah menengah atas dan yahandanya yang tidak mampu melihat dengan pakaian dan wajah lusuh mereka. Saat-saat itu kuteliti dan menghayalkan sosok mereka di labi-labi yang kutumpangi menuju tempat mengajarku, sebuah bimbingan belajar yang cukup terkemuka se-Indonesia bagi anak sekolah.
• Sedemikian banyak kasus pemimpin zaman sekarang beserta pola kehidupan anak eturunan mereka yang teramat glamor dan angkuh.

Bu Nanas on Facebook

Terik. Jendela yang ada di sekeliling ruang bukan membantu menghantarkan angin ke dalam, tetapi justru menyaring sengatan matahari, lalu memantulkan sekaliannya itu menuju tiap-tiap bangku siswa kelas X-I SMA PutraTaruna. Meskipun ada pepohonan di muka kelas, tetapi hanya pepohonan gantung saja. Siswa sekolah swasta terbaik di daerah itu hanya mampu menikmati rindangnya pohon buah-buahan jika mereka berada di sudut kiri sekolah. Jika tiba musimnya, mangga harum manis akan sangat nikmat dipanen. Begitu juga rambutan yang meski tidak berubah warna, senantiasa hijau, akan tetap manis rasanya. Sekolah Menengah Atas itu hanya memiliki seratus tiga puluh siswa yang kesemuanya adalah laki-laki. Bangunan sekolah tidaklah terlalu megah, namun fasilitas serta guru yang tersedia diakui cukup kompeten dalam bidangnya masing-masing. Tak mengherankan jika siswa di sana senantiasa mengecap prestasi dalam berbagai olimpiade.
Peluh tak terperi. Semua siswa, yang tak menikmati jalannya sistem belajar mengajar hari itu, mengeluh dalam hati. Nyanyian lambung mengirim sinyal ke otak mereka bahwa telah tiba waktunya untuk makan siang. Lima huruf menggambarkan perasaan mereka saat ini yakni BOSAN. Kelas tersebut berisi tiga puluh orang siswa laki-laki yang nyaris hampir tiap individunya berprestasi dan pernah mengharumkan nama sekolah.
Hanyalah tiap kali tersebut ini, mereka akan merasakan betapa metode ceramah dalam mengajar di siang hari amatlah tidak tepat. Akan tetapi, suara protes ringan dari bibir mereka tidak akan boleh terdengar di telinga wanita yang berjalan mondar-mandir bak peragawati di hadapan mereka itu.
Di sudut belakang sana, Kamil, siswa yang terpandai ke lima urutan kepandaian di kelas, mulai kehabisan akal. Ia telah coba memenuhi buku catatan pelajaran Bahasa Daerah -nya dengan gambar-gambar tokoh manga favoritnya. Kini, setelah ia merasa cukup bosan, ia keluarkan telepon genggamnya yang tak tanggung-tanggung, Blackberry yang membuat mata rekan-rekan serta abang-abang kantin di sekolahnya berdecak kagum. Tak pernah ia lepaskan handphone itu dari genggamannya, apalagi dari jemari lentiknya, terkecuali ketika kelas akan memulai pelajaran. Kali ini, ia bantah prinsipnya. Ia akan tetap stay on line dalam dunia maya demi mengenyahkan kebosanannya.
Kamil merupakan putera pejabat daerah yang hidup mandiri bersama seorang kakak perempuannya di salah satu rumah milik ayahnya, yang beberapa lainnya tersebar di penjuru daerah penting. Kamil Malik termasuk seorang siswa yang mandiri dan penggiat belajar. Tanpa segan dan malas ia datangi sekolah dan tempat bimbingan belajar. Tak seperti kawan-kawannya yang lain, yang juga putera pejabat, yang tak mau peduli dengan segala sesuatu mengenai pendidikan. Akan tetapi, di balik ketekunannya, jiwa nakalnya sebagai pemuda juga masih melekat baik dalam kepalanya. Rekan-rekannya menjulukinya “The Trouble Maker Somewhat Intellectual”. Kenakalan-kenakalannya tersembunyi dalam berbagai kecanggihan teknologi informasi saat ini.
Ya, seperti sekarang ini, ibu guru nya itu yakinnya tidak tahu apa yang tengah ia dan gadget kesayangannya itu lakukan. Ia tatap layar telepon genggamnya, senyum tersimpul di sudut bibir seraya mengukir beberapa kata di dinding pofilnya. Sebuah topik yang ia coba mulai bahas dan perbincangkan bersama teman-teman sekelasnya melalui facebook, situs terkemuka yang tengah tren sebagai jejaring sosial paling laris di Indonesia belakangan ini. Sementara di hadapannya, sesosok wanita paruh baya dengan sebuah spidol whiteboard di genggaman tangannya sibuk mengutarakan tentang ini-itu yakni haal yang begitu membosankan siswa ‘abg’ umur belasan masa kini, juga tentang ketidak-unikan sesuatu hal, terlebih sesuatu yang sifatnya monoton.
Sejuta kata terpendam dalam pikiran tiap-tiap siswa yang menatap buk Na, begitu ia biasa disapa. Wanita yang belum pernah merasakan mahligai rumah tangga itu bernama lengkap Karlina Nasution. Pada awalnya, ia bukanlah tamatan sekolah perguruan ataupun universitas yang khusus membidangi ilmu mengajar murid. Beliau hanyalah siswi tamatan sekolah kejuruan yang tidak ada kaitannya dengan ilmu pendidikan. Hanya saja, beliau terlahir sebagai puteri budayawan kenamaan yang telah tiada sehingga dinilai mampu mentransfer ilmu budaya yang ia miliki sebagai warisan dari almarhum ayahandanya. Kelebihan yang beliau miliki yakni mampu berbicara beberapa bahasa daerah dengan cukup lancar. Karena masih menerapkan sistem kuno pada tiap-tiap pertemuannya bersama muridnya, ia dinilai tidak asyik seperti apa yang diharapkan siswa SMA pada umumnya. Proses transfer ilmu yang beliau lakukan senantiasa menimbulkan kejenuhan.
Siswa yang usil membuatkannya nama panggilan yang cukup menggelikan di kalangan mereka yakni sebutan bu Na Nas karena performa luar yang kurang ramah alias berduri-duri, nanas seperti ibu guru tersebut adalah jenis asam dan tidak ramah rasanya di indera pengecap remaja. Itulah fase kehidupan mereka saat ini.
Keyakinan Kamil bahwa ibu gurunya ini tidak mengetahui ulahnya bersama gadget-nya adalah salah. Sekarang ini bu Na, yang belum pernah merasakan pendidikan komputerisasi di zaman ia sekolah dahulu, telah memahami sedikit-banyak tentang situs jejaring sosial yang ia nilai telah merusak nama baik serta citra-nya dihadapan semua orang yang terlibat dalam jejaring itu. Seorang ‘mata-mata’ telah disewa ibu Na guna mengendalikan terbitnya kalimat-kalimat komentar yang ia khawatirkan akan merugikannya. Fathan, seorang mahasiswa Fakultas MIPA Ilmu Komputer universitas terkemuka di daerah yang ahli dalam bidang teknologi informasi itu stay on line pada setiap berlangsungnya mata pelajaran ibu Na. Ibu guru yang telah mengajar hampir tiga tahun di sekolah itu. Kamil sendiri menyadari bahwa salah satu kenakalannya telah terbongkar dan berakibat fatal. “Tapi, apa mau dibuat? Kelas begini membosankan!” Eluhnya di hati.
Sebulan yang lalu, tepat di hari dan waktu yang sama, juga masih dengan suasana yang nyaris sama, bahkan lebih buruk. Ketika itu bu Na masuk ke dalam ruang kelas dengan wajah yang seratus delapan puluh derajat siswa yakini pasti beliau saat itu tengah tertimpa musibah. Atau mungkin memiliki banyak hutang yang harus segera dilunasi. Atau mungkin juga beliau baru saja menjadi korban tabrak lari? Berbagai atau yang lain dan perkiraan yang tadinya begitu serius hingga perkiraan yang paling konyol terbingkai dalam benak dan pikiran siswa yang tak lama kemudian berlanjut menjadi pembahasan seru di dinding facebook sebuah grup. Wajah menyeramkan bu Na saat itu berbuah tindakan yang tak kalah mengejutkan pula. Seminggu sebelumnya di saat mata pelajaran yang sama bu Na telah memerintahkan setiap siswa untuk membawa daun kelapa yang masih berwarna hijau tua sebagai latihan membuat kulit ketupat. Kali tersebut, seminggu setelah perintah tugas itu, setiap meja telah dipenuhi oleh beberapa helai kulit kelapa. Bu Na menegaskan bahwa siapapun harus dapat membuat kulit ketupat yang biasanya siswa sendiri rasakan isinya merupakan lontong.
Di daerah Nanggroe Aceh Darussalam, daerah di mana siswa berasal, menetap, dan bersekolah, jarang sekali ditemukan ketupat seperti yang menjadi tradisi di pulau Jawa. Bu Na menekankan bahwa keterampilan ini tidak boleh hanya dimiliki oleh anak perempuan saja. Penjelasan yang tidak mencapai waktu dua puluh menit itu menyimpulan sebuah keputusan bahwa mereka harus segera meletakkan dua helai daun kelapa di himpitan jemari di masing-masing tangan mereka. Nyaris semua siswa tidak memahami apa yang bu Na maksud. Beliau sibuk keliling meja siswa selama lima belas menit memberikan gambaran serta instruksi-instruksi selanjutnya. Di meja ke dua terdepan di sebelah kanan, Fathoni, masih belum mendapatkan apapun yang bu Na jelaskan dan arahkan. Tidak ada yang mampu menyalahkan lambatnya respon otaknya dalam hal meresap petunjuk dan informasi. Ia memang tidak berprestasi di akademik, tetapi ia merupakan seorang atlit basket kawakan di sekolah itu. Fathoni Ahmad dengan wajah tak berdayanya begitu sadar bahwa ia akan dapat murka wanita enam puluh taunan itu. Kedua tangannya sedikit gemetar. Dengan tanpa dapat ia percaya, ayunan tangan bu Na yang keras menghilangkan getaran yang timbul akibat suatu ekspresi tubuh yang mensinyalkan ketidakstabilan pikiran akibat tekana dalam pikiran. Suara keras itu mengejutkan seluruh siswa yang memang tengah merujuk pandangan mereka pada gerak-gerik rekannya. “Goblok sekali kamu Fathoni! Apa yang saya katakan tidak pernah masuk ke dalam pikiran kamu ya? Masa’ bikin kulit ketupat aja kamu mumet!”. Mendengar caci yang terlontar dari mulut gurunya, darah Fathoni semakin mendidih. Pukulan di tangannya yang membuatnya meringis perih juga tidak pernah ia dapatkan dari siapapun.
Ia tidak terima perlakuan itu. Seorangpun di muka bumi yang berumur jauh lebih tua, terlebih seumur orangtuanya, tidak pernah mengeluarkan kata yang begitu merendahkan harga dirinya itu. Terlebih di hadapan teman-temannya. Tiga puluh jenis mulut manusia yang mungkin saja akan menjadi sembilan puluh mulut serilaga di luar sana mungkin akan mengumbar-umbar kelemahannya itu. Ia semakin membenci segala sesuatu mengenai pelajaran, serta profil bu Na yang telah mendidik dengan cara yang tidak semestinya dan kelewat batas.
Sebenarnya, kali itu bukan hanya Fathoni yang belum mampu menyempurnakan tugas yang dituntut kepada mereka untuk dapat dikuasai, tetapi masih ada setengah lusin siswa lainnya yang segera menyelipkan dedaunan yang berbentuk memanjang itu menuju alur yang salah dan tidak sesuai perintah. Mereka tidak bersedia menerima kemarahan bu Na seperti yang telah diterima Fathoni oleh karenanya mereka lebih memilih untuk kerja asal-asalan demi menyamarkan ‘razia’ bu Na. Mungkin rasa hati dan pikiran bu Na saat itu memang tengah tidak menentu, oleh karenanya terlantunlah sebuah tugas dahsyat yang wajib mereka selesaikan di pertemuan berikutnya. “Masing-masing dari kalian harus membawa sepuluh lagu tradisional Aceh yang belum diaransemen sama sekali oleh siapapun! Ingat, kalau kalian mau dapat nilai bagus mata pelajaran ini, saya dapatkan tugas kalian minggu depan. Bagi siapapun yang tidak berminat dan berniat menyerahkannya, saya jamin, nilai kalian di mata pelajaran ini akan jadi nilai paling jelek di antara yang jelek”. Ujarnya menggebu seumpama monster di kepala setiap muridnya. Sebagian dari mereka mnghembuskan nafas seolah baru saja terlepas dari sarang serigala. Entah apa yang ada dalam benak guru yang satu ini.
Fathoni yang telah merasakan bagaimana sikap tidak baik gurunya itu merasa baru saat ini ia benar-benar menjadi korban. Ia berusaha mencari sebuah naungan yang mampu menampung unek-unek –nya terhadap sikap yang tidak patut ditolerir. Ia kira, hanya siswa yang tidak sopan yang tega membuat grup anti guru dimana seharusnya posisi guru itu harus dihormati. Kali itu, ia kesampingkan kebaikan etika yang selama ini ditanam dalam pola didik orangtuanya. Sebuah keresidenan dengan nama “Bu Nanas on Facebook” telah dibentuk menanggapi kejadian yang mengecewakan yang dialami oleh siswa SMA Putera Taruna dengan enam puluh lima orang yang terdiri atas siswa kelas satu hingga tiga. Grup ini juga merupakan kelompok tersembunyi. Seusai sekolah, setelah kejadian itu, sebuah undangan ia terima via facebook untuk terlibat dalam dewan kepengurusan grup anti bu Na. Ia terima undangan tersebut begitu saja, tanpa pikir panjang. Grup yang hanya dapat dijangkau oleh orang-orang yang terundang dan menerima undangan tersebut didirikan dan dipimpin oleh seorang yang tidak dapat diketahui. Sementara anggota yang direkrut telah lebih dari lima puluh orang dalam hitungan waktu tidak lebih dari tiga jam. Ia diundang sebagai eksekutif manajer yang ia sendiri tak mampu dan tak ingin mengerti maksud dari jabatan tersebut apa.
Tanpa menunggu banyak waktu yang terbuang, pembahasan seru mengenai keresidenan itupun dimulai. Hal-hal yang terkait dengan bu Na senantiasa dibahas di dinding grup. Berbagai kalimat mengomentari topik yang di-update setiap lima jam sekali. Tidak jarang kalimat-kalimat yang kurang bahkan tidak sopan muncul dari komentar rekan-rekan yang tidak mempunyai etika penggunaan situs jejaring tersebut dengan baik. Sementra jika Fathan menemukan hal tersebut, maka ia akan segera menghilangkan komentar itu dari dindingnya. Ia cukup mengomentari sesuatunya itu semestinya seperti komentar mengenai tugas pencarian lagu Aceh tradisional yang belum diaransemen sama sekali itu. Ia, kakak, ayah, ibu, bahkan bibinya telah ikut mencari dimana tugas rumah tersebut dapat ditemukan. Sayangnya, semua siswa memang mengeluh sulit setelah daya dan upaya mereka kerahkan. Fathan dapat merasa sedikit lega setelah bersama-sama berbagi kesulitan menghadapi segala sesuatu terkait bu Na. Hingga suatu ketika, saat dimana guru teknologi informasi mengomentari apa yang mereka perbuat di dinding grup tersebut.
Bu Ramadhani adalah seorang yang muda dan cantik. Pengalaman mengajarnya baru dua tahun. Tetapi, ia dinilai cukup mahir dalam bidangnya itu. Setelah dua minggu bersenang-senang memberikan komentar ini itu kepada bu Na, Bu Rama menasihati mereka untuk segera mengakhirinya. Ia sendiri tidak berkata jujur perihal apa yang ia ketahui.
Sehari setelah nasihat yang mereka dapat, serta rapat mingguan dewan guru usai, beberapa undangan resmi dari sekolah diterima oleh lima orang siswa. Sekolah mengharapkan kehadiran orangtua Fathoni, Mirza, Lukman, Haikal, dan Fikri di sekolah untuk membahas sesuatu yang tidak jelas maksudnya. Dua di antara nama tersebut adalah siswa kelas X-I sementara sisanya adalah siswa kelas X-II yang jelas merupakan siswa bu Na dan masuk dalam organisasi grup anti bu Na di facebook. Menyimpulkan demikian, siswa yang terlibat dalam grup tersebut mendadak risau. Hampir sebagian dari anggota grup segera mengeluarkan diri, termasuk ke lima anak yang harus mendatangi orangtua mreka ke sekolah esok hari.
Risau bukan hanya hinggap di hati para anggota grup. Galau juga dirasakan Kamil melihat kondisi teman-teman yang telah ia libatkan. Ia tidak tahu harus bagaimana sementara anggota grup tersebut semakin menyusut drastis. Ingin rasanya ia tiadakan keresidenan itu, tapi tidak mungkin. Ia khawatir identitasnya diketahui oleh bu Rama.
Sore itu, pukul 15.30 WIB bertempat di kantor kepala sekolah, bu Na, bu Rama, bapak kepala sekolah, serta guru bimbingan konseling ada di sana. Ke lima orangtua ataupun wali dari lima siswa yang dipanggil juga telah bersiap mendengarkan apa yang akan dibahas. Dimulai dengan ramah tamah hingga menuju poin pembahasan, kepala sekolah telah memegang beberapa lembar data hasil print dari internet. Beliau menunjukkan kepada orangtua muid yang begitu penasaran perihal maksud kedatangan mereka ke sana. Panjang lebar pak Bahrudin menjelaskan apa yang terjadi dengan siswanya yang telah menyalahgunakan internet dan jejaring sosial. Beliau begitu menyesali atas apa yang terjadi pada bu Na, salah satu guru di sekolah itu yang telah menjadi korban hinaan, cacian, serta gosip siswanya. Kelima siswa juga dipanggil kehadirannya guna kesaksian langsung atas apa yang mereka perbuat. Fathoni, selaku eksekutif manajer bingung atas apa yang telah diperbuatnya dengan tanpa sengaja. Ia ceritakan segala sesuatunya berdasarkan fakta. Begitu juga keempat siswa lainnya yang hanya menjabat sebagai anggota namun terhitung keterlibatan mereka adalah yang paling aktif. Kelima orangtua yang hadir itu merasa tersinggung, marah, dan kecewa terhadap putera mereka. Meskipun kesaksian telah dilakukan dan menyatakan bahwa pihak yang salah bukan hanya kenakalan siswa, tetapi juga faktor guru, bu Na tetap tidak mau mengerti. Ia merasa nama baiknya hancur dibuat oleh siswanya sendiri. Ia begitu marah mendengar apa yang dilaporkan oleh bu Rama sebelumnya. Ia tidak terima siswanya membalas dengan cara demikian. Dengan keterbatasan pengetahuan mengenai situs facebook dan cara penggunaannya, ia semakin merasa bahwa nama baiknya rusak total di hadapan sejuta pengguna facebook se-Indonesia. Ia tidak akan terima musyawarah tersebut hanya menghasilkan kata maaf dan jabatan tangan biasa. Bu Na dengan penuh emosi menyatakan bahwa permintaan maaf harus dipublikasi yakni maaf melalui media informasi apapun, cetak ataupun elektronik. Jika tidak, beliau akan menuntut hal itu ke pengadilan perihal perusakan nama baik. Ia, saat itu, tidak ingin mengerti meskipun penjelasan telah ditegaskan oleh Fathoni bahwa ia dan rekan-rekannya hanya menuruti undangan atau ikut-ikutan tanpa tahu siapa yang menciptakan grup tersebut.
Entah ini musibah atau cobaan bagi ayah Fathoni karena keputusan menyatakan bahwa ia dan juga ayah dari Mirza yang harus bertnggungjawab melalui media. Mereka, orangtua murid, sepakat bahwa akan menyatakan permintaan maaf secara resmi melalui koran harian yang terkemuka di daerah.
Sehari setelah itu keluarga Fathoni dan Mirza muncul di sudut kanan halaman terdepan koran yang paling laris dibaca. Mereka mengucapkan maaf kepada ibu Karlina Nasution dan berjanji takkan mengulangi perbuatan itu lagi. Dan alasan yang tidak dipublikasikan jelas-jelas menimbulkan tanda tanya di pikiran pembaca media tersebut.
Sekarang ini, di tengah hari yang berhias mentari, Kamil masih jelas mengingat apa yang telah diperbuatnya. Namun ia masih yakin bahwa pemahaman bu Na mengenai teknologi internet hanyalah sebatas laporan dari bu Rama. Kamil masih sangat bersemangat mengurusi dan memimpin grup dan anggotanya yang baru, “Anti NANAS” yang bukan lagi grup tertutup, melainkan terbuka untuk umum sehingga bagi setiap orang yang mau bergabung, dapat saja dengan mudah masuk ke sana.
Sementara di depan sana, sesosok guru berjalan hilir mudik mencoba melakukan transfer ilmu. Setelah kenyataan ia dapatkan, pahami, dan mengerti bahwa Kamil, putera kerabat dekat sekaligus orang yang telah berjasa memberikannya pekerjaan ini, adalah pelaku utama perusakan nama baiknya. Dengan hati yang penuh marah. Ingin rasanya ia berteriak “Kamil! Hentikan semua ini!”.
Duduk santai di sudut sana Kamil bersama seratus tiga puluh lima orang teman-temannya, di dalam grup yang diciptakannya, mengomentari gerak-gerik bu Na setiap inci-nya. Ia tidak peduli. Tak ada yang mampu mengendalikan ini.

inspired by a true story
written by: Meta Keumala
aku.....tatkala mencoba berkompetisi